Ikhlas sebagai Pondasi ImanSecara bahasa, ikhlas berarti murni (al-shafi) dan bersih dari campuran. Adapun hakikat ikhlas adalah al-tabarri ‘an kulli ma dunallah, yaitu terbebas dari segala sesuatu selain Allah. Dengan demikian, seseorang yang ikhlas dalam beribadah hanya mengharapkan ridha Allah Swt., bukan karena mengharap pujian dari makhluk. Selain itu, penting untuk dipahami bahwa ikhlas berkaitan erat dengan niat dalam hati seseorang ketika beribadah. Ikhlas yang sempurna harus terjaga sebelum, saat, dan setelah ibadah dilakukan. Sebab, ada kalanya seseorang ikhlas ketika beribadah, namun setelahnya ia terjebak dalam sikap riya’ (pamer), sehingga merusak nilai ibadah tersebut. Oleh karena itu, ikhlas dapat dimaknai sebagai kesucian niat, kebersihan batin dalam beramal, tidak berpura-pura, serta lurus hati dalam bertindak, jauh dari riya’ dan kemegahan, serta semata-mata mengharapkan ridha Allah.Selanjutnya, dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman dalam QS. Sad ayat 83:إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَyang artinya, “kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” Ayat ini menunjukkan bahwa Iblis mengakui ketidakmampuannya untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang ikhlas. Meskipun berbagai tipu daya telah dilakukan, hamba yang ikhlas tetap terlindungi karena kekuatan iman dan kedekatan mereka kepada Allah. Dengan kata lain, orang-orang yang ikhlas adalah mereka yang tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah serta hanya mencari keridhaan-Nya. Sebaliknya, Iblis hanya mampu menyesatkan orang-orang yang lemah imannya dan cenderung mengikuti hawa nafsu.Lebih lanjut, konsep keikhlasan juga dikaji oleh tokoh tasawuf, yaitu Al-Ghazali. Ia menegaskan bahwa ikhlas merupakan lawan dari isyrak (persekutuan). Hal ini disebabkan karena seseorang yang tidak ikhlas akan cenderung mengharapkan sesuatu dari makhluk, yang pada hakikatnya termasuk bentuk persekutuan. Misalnya, ketika seseorang mengajar tidak hanya mengharapkan pahala dari Allah, tetapi juga mengharapkan pujian, jabatan, atau penghormatan dari masyarakat. Niat seperti ini dapat merusak keikhlasan dalam beramal. Oleh sebab itu, Al-Ghazali merumuskan bahwa ikhlas adalah perbuatan hati (kalbu) yang bersih dari segala campuran selain Allah, terbebas dari riya’, dan dilakukan semata-mata karena Allah.
Referensi:Abdul Mustaqim, Akhlak Tasawuf Lelaku Suci Menuju Revolusi Hati (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2013), hlm. 81. Sidi Gazalba, Asas Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 188.Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, jilid IX, terj. Zuhri dkk. (Semarang: Asy-Syifa’, 1994), hlm. 66.Imam Al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, terj. Fudhailurrahman dan Aida Humaira (Jakarta: Sahara, 2015), hlm. 509.
Zalfa Az Zahra (11230511000076)Jurnalistik (6B)UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
“Ikhlas adalah ketika hati tetap tenang, meski kebaikan yang dilakukan tidak diketahui siapa pun selain Allah.”




Leave a Reply